Tampilkan postingan dengan label RIWAYAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RIWAYAT. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 April 2010

UMMU DZAR AL-GHIFARIYAH


Ummu Dzar Al-Ghifariyah: Teladan Istri Setia Pendamping Suami

Shahabiyah yang akan kita telusuri kisahnya kali ini adalah Ummu Dzar, istri shahabat Abu Dzar Al-Ghifari. Kesetiaannya mendampingi suami, layak diteladani. Betapa tidak, karena beliau ikhlas merawat dan menemani sang suami hingga ajal menjemput . Dalam kesendirian di padang pasir liar nan luas membentang.

Rabadzah, tempat tinggal Abu Dzar Al-Ghifari

Karena adanya perbedaan pendapat, dengan Utsman bin Affan, maka Abu Dzar Al-Ghifari dan keluarganya memilih Rabadzah, padang pasir liar sebagai tempat tinggal mereka. Sebuah keputusan yang sangat berani. Karena daerah tersebut sangat jarang dilalui kafilah. Dan mereka pun hidup tanpa ada tetangga di kanan dan kirinya.

Sang istri yang shalihah, tanpa keluh kesah , dengan setia, mendampingi Abu Dzar Al-Ghifari dan anaknya. Hidup dalam kesederhanaan yang amat sangat. Ditambah lagi, di kemudian hari Abu Dzar Al-Ghifari menderita sakit yang cukup parah.

Menjelang ajal menjemput

Ajal pun semakin dekat, Ummu Dzar selalu berada di sisi sang suami untuk mengurus segala keperluannya. Melihat kondisi, yang semakin parah … Ummu Dzar akhirnya menangis di samping sang suami.

Abu Dzar bertanya, “ Apa yang kamu tangiskan, padahal maut itu pasti datang ?”

“ Karena engkau akan meninggal, padahal pada kita tidak ada kain untuk kafanmu!” jawab Ummu Dzar pilu.

Abu Dzar tersenyum dengan amat ramah, seperti layaknya orang yang akan merantau jauh. Lalu berkata kepada istrinya itu,” Janganlah menangis! Pada suatu hari, ketika saya berada di sisi Rasulullah saw bersama beberapa sahabatnya saw, saya dengar Beliau saw bersabda,” Pastilah ada salah seorang di antara kalian yang akan meninggal di padang pasir liar, yang akan disaksikan nanti oleh serombongan orang-orang beriman!”

Semua yang ada di majelis Rasulullah saw telah meninggal di kampung dan di hadapan jama’ah kaum muslimin. Tidak ada lagi yang hidup di antara mereka kecuali aku.

Nah, inilah aku sekarang menghadapi maut di padang pasir. Maka perhatikanlah jalanan, kalau-kalau rombongan orang-orang beriman itu sudah datang !

Demi Allah, saya tidak bohong, dan tidak pula dibohongi!”

Tak berapa lama, Abu Dzar pun kembali ke hadirat Allah SWT. Innalillahi wa inna illaihi rooji’un.

Kenyataan yang ada

Subhanallah! Apa yang diucapkan Abu Dzar sungguh menjadi kenyataan. Karena tentu saja dia tidak berbohong, dan pasti tidak dibohongi. Karena Rasulullah SAW adalah ma’shum.

Tidak lama berselang, sesudah Abu Dzar menghembuskan nafas terakhirnya, tampak serombongan kafilah yang sedang berjalan cepat di padang sahara itu. Subhanallah! Kafilah itu adalah Kafilah kaum mukminin yang dipimpin oleh Abdullah bin Mas’ud, salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Ibnu Mas’ud, merasa sangat trenyuh, karena ia melihat sesosok tubuh yang terbujur seperti jenazah, sedang di sisinya duduk seorang perempuan tua, Ummu Dzar dan anaknya yang sedang menangis.

Subhanallah! Betapa kesetiaan, ketegaran dan ketabahan Ummu Dzar, sangat layak dicontoh. Setia dan istiqamah mendampingi sang mujahid pilihan, hingga akhir hayatnya. Walaupun harus bertempat tinggal di padang pasir liar, padahal usianya sudah sangat tua. Dan tanpa harta yang berharga, hingga, kain untuk mengkafani suaminya pun tidak dimilikinya.

Ibnu Mas’ud, membelokkan tali kekangnya ke arah perempuan tua tersebut. Diikuti anggota rombongan dibelakangnya. Saat pandangan matanya tertuju pada tubuh sang jenazah … tampak olehnya wajah sahabatnya … sahabat seaqidah, sahabat seperjuangan dalam membela tegaknya Islam. Dialah Abu Dzar . Maka, air mata pun mengucur deras dari kedua pelupuk matanya. Innalillahi wa inna illaihi rooji’un. Ia pun berkata, “Benarlah ucapan Rasulullah SAW. Anda berjalan sebatang kara. Mati sebatang kara. Dan dibangkitkan sebatang kara !”

Ibnu Mas’ud RA pun duduk, lalu bercerita kepada para sahabatnya maksud dari pujian yang diucapkannya.

‘ Anda berjalan seorang diri, mati seorang diri, dan dibangkitkan nanti seorang diri !”

Ucapan itu terjadi di waktu Perang Tabuk, tahun kesembilan Hijriah.

Perang Tabuk

Perang Tabuk, adalah perang melawan pasukan Romawi yang cukup menakutkan. Mereka berada di satu tempat dan siap menggempur umat Islam. Saat itu, musim panas teramat teriknya. Sehingga tidak banyak kaum muslimin yang menyambut seruan Rasulullah SAW.

Mereka yang ikut pun, akhirnya berguguran di tengah jalan, satu demi satu . Sebagian disebabkan azam yang tidak mantap. Abu Dzar sempat tertinggal oleh rombongan, karena keledai yang ditungganginya, berjalan sangat gontai. Disebabkan lapar yang sangat dan teriknya matahari yang membakar. Namun Abu Dzar tidak patah semangat.

Akhirnya, karena tidak ingin tertinggal dalam kesempatan jihad, saat itu, Abu Dzar bertekad melanjutkan perjalanannya, mengejar rombongan Rasulullah saw dengan berjalan kaki, sambil memikul beban bawaannya.

Subhanallah, alhamdulillah, Allahu akbar, ia berhasil . Alhamdulillah, bi-iznilah Abu Dzar dapat bertemu kembali dengan rombongan Rasulullah saw saat mereka beristirahat. Azam yang kuat, memberikan hasil akhir yang diharap.

Sungguh, menggapai surga adalah hal yang tidak mudah dan hanya diberikan kepada hamba-hambanya yang terpilih …

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat” (Qs. Al-Baqarah 214).

Sebagai muslimah, banyak hal dapat kita lakukan dan persiapkan untuk berkhidmat di jalan-Nya. [ummu azizah/voa-islam.com]

Maroji: 101 Wanita Teladan di Masa Rasulullah SAW oleh Hepi Andi Bastoni.
(sumber : http://www.voa-islam.com/muslimah/mujahidah/2010/03/05/3652/ummu-dzar-al-ghifariyahteladan-istri-setia-pendamping-suami)

SUMAYYAH BINTI KHUBBATH


Sumayyah binti Khubbath: Wanita Beriman Pertama yang Gugur Syahid

Kisah perjuangan Sumayyah sungguh indah dan menawan untuk didengar. Kisahnya memiliki pengaruh sangat kuat untuk generasi muslim sesudahnya. Dia menjalani kehidupannya dengan berbagai ujian dan cobaan; mulai dari ujian terkecil hingga yang besar. Sumayyah merampungkan ujian dalam kehidupannya dengan sebuah titel kesuksesan terbesar, yaitu kesyahidan. Dia terdaftar dalam urutan para syuhada yang akan menerima hadiah surga dari Allah dan hidup di sisi-Nya serta diberi rezeki melimpah.

Diceritakan bahwa ketika Islam mulai muncul ke permukaan, Sumayyah yang juga istri seorang syahid bernama Yasir dan ibu seorang syahid bernama Ammar itu segera menyambutnya, sehingga dia termasuk salah satu wanita beriman pada fase pertama kemunculan Islam. Bahkan dapat dikatakan bahwa Sumayyah adalah wanita pertama yang memberikan perlawanan kepada kaum musyrikin demi membela panji Islam. Ibnul Atsir mengatakan, “Dia adalah orang ketujuh dari tujuh orang yang mula-mula masuk Islam. Dia termasuk orang yang menerima siksaan berat demi Allah SWT.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Orang yang mula-mula membela Islam ada tujuh orang; Rasulullah SAW, Abu Bakar, Bilal, Khabbab, Shuhaib, Ammar, dan Sumayyah.”

Di dalam bukunya, Nisaa` min ‘Ashri An-Nubuwwah, Syaikh Ahmad Khalil Jam’ah menegaskan bahwa dalam lintasan sejarah Islam, tidak dikenal seorang wanita yang memiliki kesabaran seperti Sumayyah. “Dia menjadikan kesabaran sebagai sebuah syiarnya,” tulisnya. Ini mengingat, dapat dibayangkan bagaimana keadaan seorang wanita yang sudah tua renta, namun mampu menghadapi siksaan yang begitu berat dari orang-orang kafir. Disebabkan keimanan kepada Allah, dia sanggup menghadapi berbagai kesedihan dan kesulitan.

Sumayyah tidak seorang diri menghadapi pedihnya siksaan dan getirnya kehidupan. Dia menghadapi siksaan bersama seluruh anggota keluarganya. Lecutan cemeti telah menghancurkan tubuh-tubuh mereka. Akan tetapi, keimanan yang kokoh kepada Allah laksana gunung karang yang tidak terpengaruh gelombang dahsyat ataupun angin yang hebat.

Dikisahkan bahwa Sumayyah diserahkan Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah kepada keponakannya, Abu Jahal yang fasik. Meski kondisinya sangat renta dan ringkih, namun Sumayyah mampu menghadapi apa yang orang kuat sekalipun tidak mampu menghadapinya. Abu Jahal yang telah dihinakan oleh Allah mengambilnya dengan tujuan memuaskan rasa dengki di dalam hatinya, sekaligus mencabut akidah Islam yang tertanam di dada Sumayyah.

Menghadapi intimidasi Abu Jahal, Sumayyah memilih diam seribu bahasa dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Abu Jahal mengolok-oloknya dengan berkata, “Engkau tidak beriman kepada Muhammad, melainkan karena engkau merindukan ketampanannya.” Namun Sumayyah tetap tidak mau berbicara. Dia bertahan dari siksaan dengan rasa bangga. Karena dia merasa jauh lebih mulia daripada Abu Jahal dan para pengikutnya. Dia bangga dengan akidah tauhid yang diyakininya. Dengan tauhid, Sumayyah merasa ringan menghadapi siksaan yang pahit, karena dia yakin berada di jalan Allah.

Mengenai gambaran betapa beratnya siksaan yang dihadapi mereka, Ibnu Katsir menceritakan, dia menukil dari Ibnu Ishaq yang mengisahkan, “Ketika waktu zuhur tiba, Yasir, ayah, dan ibunya (Sumayyah) berangkat bersama Bani Makhzum. Mereka menyiksa keluarga Yasir di sekitar Kota Makkah. Rasulullah berlalu di dekat mereka seraya bersabda, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, dijanjikan surga untuk kalian.”

Lalu Al-Baihaqi, dengan sanadnya, meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulukllah berlalu di dekat Ammar dan keluarganya yang sedang menerima siksaan. Kemudian beliau bersabda kepada mereka, “Bergembiralah wahai keluarga Ammar dan Yasir, sesungguhnya telah dijanjikan surga untuk kalian semua.” (HR. Al-Hakim)

Ketika orang-orang musyrik telah merasa putus asa menghadapi ketabahan dan kesabaran Sumayyah, maka mereka membunuhnya dengan tombak yang dihunjamkan ke arah kemaluannya. Dan Sumayyah pun menjadi syahidah pertama.

Kerasnya intimidasi dan dahsyatnya siksaan kaum kafir Quraisy menyebabkan anak dan suaminya juga terbunuh di jalan Allah. Mereka terbunuh sementara keimanan dan keislaman tetap kokoh bercokol di dalam hati mereka.

Semoga Allah meridhai Sumayyah, anaknya, dan suaminya. Semoga mereka mendapatkan ampunan dari Allah, sebagai yang disabdakan Rasulullah, “Ya Allah, ampunilah keluarga Yasir, dan Engkau telah melakukan itu.” [ganna pryadha/voa-islam.com]

(sumber : http://www.voa-islam.com/muslimah/mujahidah/2010/03/24/4265/sumayyah-binti-khubbathwanita-beriman-pertama-yang-gugur-syahid)

FATIMAH BINTI KHATTAB


Fatimah adalah putri Khatthab bin Nufa’il al-Makhzumi al-Quraisy, seorang mulia berderajat tinggi dan utama di kalangan orang Arab. Ibundanya adalah Hamtamah binti Hasyim bin Mughirah.

Fatimah binti Khatthab memiliki peran penting di masa awal dakwah Rasulullah SAW. Dia termasuk salah seorang shahabiyah yang pertama berbaiat di hadapan Rasulullah SAW. Demikian juga suaminya, Said bin Zaid. Beliau memberi contoh mulia bagi setiap muslimah dalam hal menyembunyikan dan menjaga rahasia. Sebagai bentuk perlindungan, terhadap Islam dan terhadap Rasulullah SAW. Dia juga mempraktikkan keteladanan dalam keberanian.

Nikmat besar yang sangat disyukurinya adalah atas izin Allah, ia berhasil menghantar sang kakak, Umar bin Khatthab memeluk Islam. Sebagaimana permohonan Nabi Muhammad saw kepada Allah, agar menguatkan Islam dengan salah satu dari dua Umar.

Umar bin Khatthab memeluk Islam

Umar bin Khatthab RA, mengisahkan tentang dirinya masuk Islam. Beliau RA berkata, "Aku keluar rumah tiga hari sesudah masuk Islamnya Hamzah RA. Aku bertemu dengan Nu’aim bin Abdillah al-Makhzumi". Aku katakan kepadanya,” Apakah kamu benci agama bapak moyang kamu dan lebih cenderung kepada agama Muhammad?”
Dia menjawab, “Orang yang lebih besar haknya atas dirimu saja sudah melakukan hal ini.”
“Siapa dia?”.
“Adikmu, Fatimah dan iparmu, yakni suaminya, Said bin Zaid.
Aku bergegas menuju rumah adikku. Kudapati pintunya terkunci, tetapi aku mendengar dengungan suara dari dalam rumah. Ketika pintu terbuka, akupun masuk. Akupun bertanya,” Suara apa yang kudengar tadi ?”.
Fatimah membantah,” Aku tidak mendengar apa-apa.” Kami terus berbantah-bantahan, hingga akhirnya kupegang kepalanya. Fatimah berkata,” Semua ini akan mencelakakanmu, aku malu ketika aku melihat darah.”
Aku berkata,” Perlihatkan kepadaku kitab yang kudengar kalian membacanya tadi.”
Fathimah menjawab, “Kami mengkhawatirkan kamu atasnya.”
Kukatakan, “Kamu jangan khawatir. Aku bersumpah demi tuhan-tuhan itu, aku pasti mengembalikannya apabila aku sudah membacakannya kepada mereka.”

Adikku berkata, “Tidak menyentuhnya kecuali makhluk-makhluk yang disucikan.” Lantas Aku mandi dan kubaca:

1. Thaahaa.
2. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah;
3. tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),
4. Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.
5. (yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arasy.
6. kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.
7. dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, Maka Sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.
8. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang baik),

Aku berkata, “Betapa bagusnya ucapan ini dan betapa mulianya.”
Ketika Khabbab bin al-Arrat mendengar pembicaraan ini, maka ia pun keluar dari persembunyiannya di belakang rumah Fatimah. Dia bersembunyi ketakutan ketika mendengar suara Umar mengetuk pintu.

Khabbab berkata, “Wahai Umar, sesungguhnya aku berharap agar Allah mengkhususkan engkau dengan doa nabi-Nya. Sesungguhnya aku mendengar pada suatu sore Beliau SAW berdo’a,” Ya Alloh, kuatkanlah Islam dengan Abul Hakam bin Hisyam atau dengan Umar bin Khatthab” (dalam riwayat lain disebutkan: “Kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar”).

Aku berkata kepada Khabbab,” Tunjukkan kepadaku di mana Muhammad berada. Aku akan datang menemuinya untuk masuk Islam”. Khabbab mengajakku kerumah Arqam bin Abil Arqam (di dekat bukit Shafa) sampai aku mengikrarkan Islam di hadapan Rasulullah SAW. Pada saat itu, Rasulullah saw langsung bertakbir, demikian juga para sahabat di sana, dan juga mengumandangkan tahlil. Mereka menampakkan kegembiraan mereka (Ma’rifah ash-Shahabah, Abu Nu’aim al Ashbahani, 7145, hasan).

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar !!!

Demikianlah, kisah Umar bin Khatthab memeluk Islam. Yang tidak dapat dilepaskan dari peran besar sang adik, Fatimah. Yang sudah lebih dulu memeluk Islam. Dan menunjukkan ketegarannya, walaupun darah sempat mengucur di wajahnya … Saat berseteru dengan sang Al Faruq, Umar bin Khatthab. Tidak ada kemarahan, apalagi sakit hati padanya. Bahkan, ia tetap penuh semangat, mendorong sang kakak untuk memeluk Islam.

Semoga kita semua, para muslimah dapat mengambil ibrah dari kisah di atas. [ummu azizah/voa-islam.com]

Maroji’: Ali bin Nayif asy-Syuhud, Kisah Shahabiyah: Mawar-mawar Padang Pasir (judul asli: Masyahir an-Nisa’ al Muslimat).
(sumber : http://www.voa-islam.com/muslimah/mujahidah/2010/04/01/4665/fatimah-binti-khatthabmenghantar-umar-al-faruq-memeluk-islam)

Rabu, 31 Maret 2010

CERITA MENJELANG WAFATNYA NABI


Suatu malam, setelah kembali ke Medinah, Nabi SAW bangun ditengah malam. Kemudian dia meminta pelayannya untuk menyiapkan pelana keledainya.
Segera kemudian Nabi SAW dengan pelayannya meninggalkan rumah menuju Baqi Al-Gharqad, kuburan kaum Muslim.

Didepan kuburan tersebut, seolah-olah bisa melihat para Syuhada yang dikubur, Nabi SAW pun berbicara dan berdoa untuk mereka. Si pelayan, ‘Abd Allah’ kemudian melaporkan bahwa “Nabi Muhammad SAW mengatakan kepada saya bahwa Nabi SAW diperintahkan oleh Allah SWT untuk berdoa bagi yang meninggal dan bahwa saya harus pergi bersama dia”

Sesaat setelah berdoa, Nabi SAW berbalik dan memandang sang pelayan sambil berkata: “Saya mendapat pilihan antara memilih menjadi kaya raya dan mendapatkan semua kekayaan dunia, panjang umur dan kemudian masuk syorga, atau memilih menemui Allah SWT dan masuk syorga sekarang juga.

Si pelayan, Abd Allah, memohon dengan sangat agar Nabi SAW memilih yang pertama, yaitu panjang umur dengan kekayaan yang melimpah dan kemudian masuk syorga.
Tapi Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa dia telah memilih untuk menemui dan menghadap Allah SWT sekarang juga, dan tidak memilih untuk tetap tinggal di dunia ini. Kemudian mereka pun pulang kembali menuju rumah, dan Rasullullah pun meneruskan tidurnya.

Pagi-pagi sekali ketika akan bangun, Nabi SAW merasakan sakit kepala yang sangat berat, tapi Nabi SAW tetap memaksakan diri untuk memimpin sholat subuh di mesjid.
Dan seperti biasa, Nabi SAW pun berbicara didepan para sahabat dan jamaah subuh pagi itu, dan dari apa yang beliau ungkapkan semuanya mengerti bahwa Nabi SAW sudah mendekati masa akhir hidupnya.

Nabi SAW memuji teman terdekatnya, Abu Bakar, yang mulai meneteskan air mata. Kemudian juga Nabi SAW mengatakan kepada hadirin bahwa mereka tahu bahwa kita semua akan bertemu kembali di syorga.

Walaupun Nabi SAW tahu persis bahwa umatnya akan tetap menyembah Allah, tapi kenikmatan dunia akan sangat besar daya tariknya sehingga Nabi sudah mengungkapkan kekhawatirannya akan hal tersebut, bahwa suatu saat nanti umatnya akan bertarung satu sama lain demi “material semata” dan melupakan hal-hal yang bersifat “spiritual”.

Segera setelah berbicara didepan umatnya, Nabi SAW pun meminta dipindahkan ke kamar salah satu Istrinya, yaitu Aishah.
Hari pun berlalu, namun sakit nya Nabi SAW makin parah, panasnya pun meninggi. Sampai suatu hari, saking beratnya sakitnya, Nabi SAW tidak mampu berjalan menuju mesjid, yang hanya disebelah kamar Aishah.

Nabi SAW pun kemudian menyuruh Aishah untuk mengabarkan kepada Umat nya agar meyuruh Abu Bakar, yaitu bapaknya Aishah sendiri, untuk menjadi Imam pada sholat tersebut.
Semua jamaah sangatlah merasa sedih, karena baru kali ini lah Nabi SAW tidak bisa memimpin Sholat mereka.

Kemudian, ada tanggal 12 Rabiul Awal 11 Hijriyah (8 Juni 632), Nabi SAW mendengar suara orang lagi sholat. Dengan susah payah, Nabi SAW melihat dari pintu dan menyaksikan ABu Bakar menjadi Imam sholat, dan sementara itu jamaah berbaris rapi dibelakangnya.

Nabi pun tersenyum bahagia. Melihat nabi datang, Abu Bakar pun mempersilahkan Nabi untuk memimpin, tapi dengan halus Nabi mempersilahkan Abu bakar untuk terus menjadi Imam. Nabi SAW pun sholat sambil duduk disebelah ABu Bakar. Segera setelah itu, Nabi SAW pun kembali ke kamar dan merebahkan diri.

Nabi SAW berada dalam kondisi yang kesakitan, sehingga Fatimah, anak perempuannya, menangis sedih.
“Tidak ada lagi kesakitan bagi Bapak mu ini setelah hari ini; Sungguh, kematian telah menghampiri ku. Kita akan semua akan merasakannya” Nabi SAW berkata.

Melihat Nabi SAW berbaring, Aishah, sang istri ingat akan satu hal yang pernah pernah diungkapkan oleh Nabi Muhammad SAW yaitu:
“Allah tidak pernah mengambil nabi SAW tanpa memberikan dia pilihan. Dan dia ingat kata terakhir Nabi SAW adalah: “tidak, lebih baik di Syorga yang mulia”.
Mendengan itu, Aishah pun berkata kepada dirinya sendiri: “Oh, Demi Allah, Nabi Muhammad SAW tidak memilih kita”.

Akhirnya Nabi Muhammad SAW pun meninggal dunia.
Mendengar kabar itu, semua jamaah merasa sangat sedih. “Umar tidak percaya dan mengatakan hal tersebut tidak benar”
Abu Bakar pun kemudian berbicara kepada jamaah:
“Semua pujian hanyalalh milik Allah. Hai Manusia, siapapun yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah meninggal dunia. Tapi bagi siapa yang menyembah Allah, Allah hidup dan akan tetap hidup”

Kemudian Abu Bakar membaca Surat Ali Imran Ayat 144 – 145:
Muhammad itu hanyalah seorang Nabi, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Nabi. Apakah jika dia wafat atau dibunuh maka kamu berbalik kebelakang menjadi Murtad? barang siapa yang berbalik kebelakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala Akhirat, maka akan kami berikan kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memebrikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur”

Setelah itu, kaum muslim pun akhirnya sepakat menyetujui Abu Bakar sebagai pemimpin mereka yang memang sudah dipilih sendiri oleh Nabi Muhammad SAW.
Abu Bakar kemudian menutup pidatonya dengan kata-kata:
“Ikuti saya selama saya mengikuti Allah dan Nabi SAW. Tapi jangan ikuti jika saya menyimpang dari ajaran Allah dan Nabi SAW. Sekarang, mari kita sholat, Allah akan menyayangi mu”

“Dimana Nabi SAW akan dikuburkan?” salah seorang bertanya.
Abu Bakar ingat ketika Nabi SAW pernah berkata: “Nabi mesti dikuburkan di lokasi dimana dia meninggal” yang merupakan terjemahan bebas dari “No prophet dies who is not buried on the spot where he died”.

Demikianlah, Nabi Muhammad SAW pun akhirnya dikubur di tempat dia meninggal, yaitu di kamar Aishah. Kuburan di gali dilantai kamar Aishah, disebelah mesjid.
Tempat inilah yang kemudian dikenal sebagai “Haram Al-Nabawi”
(disadur dari The life of The Prophet Muhammad)

(sumber : http://cahyaiman.wordpress.com)